
JAKARTA (28 April): Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem melalui Akademi Perempuan NasDem dan Panglima Itam Library menggelar diskusi dan bedah film dokumenter Roehana Koeddoes: Cahaya dari Minang di Auditorium Perpustakaan Panglima Itam, NasDem Tower, Jakarta, Selasa (28/4).
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Prof. Yenny Narny, Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas; Hasril Chaniago, penulis buku Riwayat Hidup dan Perjuangan Ruhana Kuddus: Tokoh Perempuan yang Mendahului Zaman; serta Pemimpin Umum Project Multatuli, Evi Mariani. Diskusi ini juga dimoderatori oleh Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Lisda Hendrajoni. Kegiatan ini diharapkan mampu menyampaikan fakta dan narasi tentang pahlawan-pahlawan sunyi yang sering kali terlupakan, seperti halnya Bundo Roehana Koeddoes.
Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter Roehana Koeddoes: Cahaya dari Minang, yang memberikan sorotan mendalam bagi para hadirin. Dari film tersebut, muncul kesadaran akan satu hal sederhana dengan dampak luar biasa dalam diri Roehana Koeddoes, yakni kemampuan manusia untuk terbebas dari berbagai kekangan.
Hidup di masa transisi yang sering kali tidak memberi ruang bagi perempuan dalam sejarah sosial, tidak membuat Roehana Koeddoes putus asa. Justru dari keterbatasan itu, ia mencari celah untuk berperan. Ketika pendidikan bagi perempuan belum tersedia, ia memahami bahwa pendidikan bukan sekadar pengetahuan, melainkan alat pembebasan dan kekuatan sosial. Ia pun mendirikan sekolah Amai Setia sebagai ruang pemberdayaan perempuan. Di sana, perempuan diajarkan membaca, menulis, berhitung, serta keterampilan seperti menjahit dan kerajinan tangan..

Roehana Koeddoes juga mendirikan Soenting Melajoe, surat kabar yang dikelola oleh perempuan untuk perempuan. Sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia, ia menjadikan media sebagai sarana untuk mendorong perempuan masuk ke ruang publik. Perempuan didorong untuk berkontribusi dan berpendapat secara bebas, sesuatu yang terbilang radikal pada zamannya.


Ia menjadi role model perempuan yang aktif dan berkarya. Roehana membangun ekosistem yang mendorong perempuan untuk mandiri, tidak hanya bergantung pada laki-laki. Sekolah menjadi pusat pendidikan, kegiatan kerajinan menjadi ruang produksi, dan media menjadi alat distribusi gagasan. Model yang dibangun Roehana menunjukkan embrio ekonomi berbasis keterampilan perempuan, yang memungkinkan mereka masuk ke dalam rantai pasar, meski tidak selalu terdokumentasi secara formal dalam jaringan perdagangan besar.
Sebagai sosok yang melampaui zamannya, Roehana Koeddoes menunjukkan bahwa perubahan tidak cukup hanya dengan suara, tetapi harus disertai tindakan. Ia memulai dari dirinya sendiri dan lingkungan sosial terdekat, lalu perlahan mendorong perubahan yang lebih luas. Tanpa bergantung pada negara, ia menghadirkan dampak yang melampaui waktu dan tempat.
Di era saat ini, ketika akses dan kebebasan perempuan semakin terbuka, sering kali kita justru abai terhadap peran para pendahulu. Padahal, sistem dan model yang dibangun Roehana Koeddoes memberi pengaruh hingga hari ini. Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 2021 menunjukkan bahwa persentase jurnalis perempuan berada di angka 20 persen. Meski masih menghadapi tantangan, angka ini menunjukkan adanya peningkatan peluang bagi perempuan untuk berperan di ruang publik.

Roehana Koeddoes bukan hanya dikenang sebagai wartawati pertama di Indonesia, tetapi sebagai sosok yang konsisten membagikan pengetahuan di tengah keterbatasan akses pendidikan perempuan. Seperti disampaikan Evi Mariani, Roehana tetap mengajar dan membangun kembali meski menghadapi tekanan, menunjukkan bahwa perjuangannya tidak bergantung pada satu ruang, melainkan pada komitmen untuk terus memberi dampak.
Lebih dari itu, Roehana menghadirkan bentuk nyata kewirausahaan sosial—menggabungkan pendidikan, kemandirian ekonomi, dan literasi dalam satu gerakan. Ia memastikan bahwa “cahaya itu benar-benar menerangi banyak orang”, sebuah warisan yang melampaui zamannya dan akhirnya diakui melalui penetapannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2019.
