
Kita mungkin pernah melihat postingan meme,postingan keislaman,atau mungkin psikologi.Setiap postingan yang kita lihat memiliki dampak terhadap beberapa bagian otak.Dan setiap reaksi kita terhadap postingan memiliki efek sampingnya masing-masing.
Lalu bagaimana kita mengetahui efek sampingnya?.
Mengenal Hedonic Consumption,Inner Child dan Tazkiyatun Nafs
- Mengupas Hedonic Consumption
Kita perlu mengetahui jenis konten yang selama ini lewat di layar hp.Di dalam Psikologi media dan sosiologi komunikasi. Terdapat 2 jenis konten namun kali ini kita hanya akan mempelajari salah satu dari dua konten tersebut.
Mary Beth Oliver dan Arthur A. Raney (2011) memperjelas kedua jenis konten tersebut.Kita dapat memeriksanya pada jurnal dengan judul “Entertainment as Pleasurable and Meaningful”.

Berikut penjelasan tentang salah satu konten tersebut.
Mengenal Hedonic Consumption
Hedonic Consumption merupakan Jenis konten yang memicu kesenangan,dan mencari rasa nyaman dengan cara instan.
Lebih lanjut Ryan dan Deci,dalam jurnalnya(On Happiness and Human Potentials: A Review of Research on Hedonic and Eudaimonic Well-Being ).menjelaskan cara kerja Hedonic Consumption.
Mempelajari Aktivitas Otak ketika Mengkonsumsi Hedonic Consumption2
Morten L. Kringelbach dan Kent C. Berridge menerbitkan sebuah jurnal.keduanya menjelaskan cara kerja otak ketika menerima Hedonic Consumption.Kita dapat menelaahnya pada https://www.nature.com/articles/nrn2687.
Secara garis besar,keduanya menjelaskan di sistem otak kita,terdapat Sistem Liking dan Sistem Wanting
A. Mengenal Sistem Wanting dan Sistem Liking
- Sistem Wanting
Morten dan Kent,menjelaskan tentang sistem wanting.Sistem wanting adalah proses motivasi yang memberikan nilai penting pada sebuah stimulus. - Sistem Liking
Sistem liking adalah Dampak hedonis atau perasaan senang secara subjektif terhadap sebuah pengalaman atau rangsangan.

B. Bagaimana cara kerja Sistem Liking dan Sistem Wanting
Kent Berridge dan Morten L. Kringerlbach menjelaskan cara kerjanya. Pada Jurnal keduanya yang berjudul “Towards a functional neuroanatomy of pleasure and happiness dan “Pleasure Systems in the Brain”.
Dari kedua jurnal diatas kita dapat mengambil kesimpulan tentang bagaimana cara kerja otak.
Ketika kita membuka Medsos,otak kita melepaskan dopamin.Dan Dopamin itu memberi tanda bahwa kita harus melakukan sesuatu dengan medsos.
Jadi ketika tidak membuka medsos,kita merasakan kehampaan. dan merasa tidak bisa melakukan apapun tanpa medsos.Setelah kita melihat konten seperti meme,atau postingan receh lainnya otak kita mengaktifkan hedonic hotspots .kita mendapati kepuasan dan kesenangan sejenak.
Dan otak kita akan mencatat bahwa dengan melihat postingan ini aku senang karena lucu dan lain sebagainya.Dan sistem wanting akan bereaksi lebih kuat dengan pemicu yang sama.
Mengenal Fenomena “Wanting without Liking” (Kecanduan)

Berridge & Robinson mengatakan:
“Dopamin memediasi ‘wanting’ (keinginan untuk mengejar), bukan ‘liking’ (kenikmatan dari mengonsumsi). Inilah mengapa pecandu tetap ‘menginginkan’ sesuatu meskipun mereka tidak lagi ‘menyukainya’.”
Hal ini memberikan efek samping yang cukup parah.Sistem Liking menurun karena terus menerus dibanjiri oleh Sistem opioid.Jadi meski kita merasa bosan melihat konten kita tidak bisa berhenti karena sistem wanting menyala dengan sangat kuat.
Hal ini diperkuat dengan adanya fenomena Dopamine Loop sebagai salah satu efek samping.Nora D. Volkow, Gene-Jack Wang, dan Ruben Baler memberikan keterangan pada jurnalnya. Mereka menjelaskan
“Stimulasi berlebihan secara kronis pada sirkuit imbalan menyebabkan penurunan jumlah reseptor dopamin D2. Adaptasi saraf ini mengakibatkan penurunan sensitivitas terhadap kesenangan alami, menciptakan kondisi ‘defisiensi imbalan’ di mana individu membutuhkan stimulus yang lebih intens (seperti scrolling terus-menerus) hanya untuk mencapai tingkat kesenangan standar. Hal ini memicu siklus konsumsi yang kompulsif.”
Kita dapat melengkapi penjelasan diatas dengan penjelasan dari Wolfram Schultz.Dia menuliskan dalam Jurnalnya bahwa:
“Neuron dopamin memberikan sinyal berupa reward prediction error, yaitu selisih antara imbalan yang diterima dengan yang diprediksi.
Kesalahan prediksi positif’ terjadi ketika imbalan lebih baik dari yang diharapkan, memicu lonjakan dopamin. Mekanisme ini menjelaskan mengapa imbalan yang tidak terduga, seperti sesekali menemukan postingan menarik di tengah tumpukan konten membosankan, jauh lebih adiktif daripada imbalan yang sudah pasti.”
Dengan ini kita dapat menyimpulkan bahwa fenomena Dopamine Loop atau “Wanting without Liking”.Dapat memberikan efek samping berupa penurunan reseptor D2 yang menyebabkan individu kehilangan kemampuan secara alami dan terjebak dalam siklus konsumsi hampa.
Bagaimana hubungan dengan Inner Child?
A. Mengenal Inner Child

Zhao,L.,dkk menjelaskan dalam jurnal Childhood trauma and problematic social media use: The mediating role of emotional dysregulation.mereka menjabarkan bahwa :
“Trauma masa kecil memiliki hubungan signifikan dengan penggunaan media sosial yang bermasalah melalui mediasi disregulasi emosi. Individu dengan luka masa kecil yang belum terselesaikan sering menggunakan platform digital sebagai strategi regulasi yang disfungsional untuk kompensasi ketidakmampuan mereka dalam mengelola penderitaan internal dan untuk melarikan diri dari perasaan hampa.”
Jadi,Secara neurobiologis, trauma masa kecil dapat menyebabkan Amigdala (pusat emosi/takut) menjadi terlalu sensitif, sementara Prefrontal Cortex (pusat kendali diri) melemah.
Hal ini menjelaskan mengapa seseorang dengan “Inner Child” yang terluka lebih sulit memutus Dopamine Loop; mereka tidak sekadar mencari hiburan, melainkan mencari “obat penenang digital” untuk menutupi rasa sakit yang tidak bisa mereka kelola sendiri.
Apa hubungannya dengan Tazkiyatun Nafs?
Dengan penjabaran fenomena Wanting without liking,dan Dopamine Loop.Kita dapat melihat sebuah titik yang mempertemukan antara fenomena diatas dengan tazkiyatun nafs.Pada buku Tazkiyatun Nafs pustaka Arafah,terdapat sebuah penjelasan tentang nafsu.
- Ammarah Bis Suu’
Salah satu yang menarik adalah pembahasan tentang Al Ammarah Bis suu’.
Ibnul Qayyim menjelaskan di dalam kitab Ighasatul Lahfan.Beliau menjelasakan bahwa ini adalah tingkatan nafsu terendah,ia bersifat egois dam cenderung pada kesenangan tanpa peduli pada nilai moral atau nilai ukhrawi.
Dan Trauma masa kecil bisa berkolerasi dengan disregulasi emosi.Hal ini mendorong ammarah bis Suu’ untuk memiliki apa yang belum dikuasai hingga menyebabkan siklus perilaku kompulsif.

Hal ini memiliki kaitan dengan Inner Child.Orang yang belum selesai dengan Inner childnya memiliki kesulitan dalam mengatur emosi.(Zhao, L., dkk.)
Ammarah Bis Suu’,bisa mendorong pemilik Inner Child untuk tidak mengontrol emosinya.Dr.Rassool menjelaskan seseorang yang memiliki level Ammarah ,Kemampuan akal atau Prefrontal Cortex (pusat kendali diri) melemah.
Dan efek sampingnya adalah penggunaan media sosial sebagai sarana untuk mengompensasi penderitaan internal atau rasa hampa.
Mengapa Ridha menjadi filter Jiwa dalam fenomena Hedonic Consumption
Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah menjelaskan dalam bukunya Madarijus Salikin.Beliau menyebut bahwa Ridha adalah ketenangan hati di bawah hukum-hukum takdir.
Beliau menekankan bahwa Ridha bukan berarti tidak merasakan sakit akan tetapi tidak membenci rasa sakit,karena rasa sakit itu berasal dari Allah.
Salah satu Artikel dari Yaqeen Institute memaparkan
“Bahwa Ridha adalah kepuasan hati dalam menghadapi takdir.alam Psikologi Islam, hal ini dipandang sebagai resiliensi psikologis aktif di mana individu menerima luka masa lalu (trauma) bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai bagian dari ketetapan Ilahi yang dapat diubah menjadi pertumbuhan spiritual.”
Akan tetapi Ridha bukan berarti pasrah begitu saja.Melainkan menjadi pemicu bahwa kita memeluk erat luka masa kecil itu.Dan tidak kabur dari sisa-sisa luka itu.

Dengan adanya Ridha kita telah mencukupi kepuasan internal.Dorongan sistem wanting (ammarah bis suu’)untuk mencari validasi atau hiburan instan di media sosial akan melemah secara alami.
Dengan Ridha pula, seseorang berhenti mengejar sesuatu yang tidak ia sukai.
Ia mulai fokus pada hal-hal yang memberikan makna mendalam (Eudaimonic), bukan sekadar kesenangan semu (Hedonic).
Kesimpulan
Luka dari masa lalu (Inner Child) memberikan pemicu berupa dorongan nafsu (Ammarah).
Tujuannya untuk mencari pelarian melalui sistem dopamin (Wanting) di media sosial.
Namun, karena sistem imbalan ini tumpul (Dopamine Loop).
Kita tidak merasa senang (Liking menurun) dan justru terjebak dalam harapan palsu (Prediction Error). Solusinya adalah penerimaan aktif (Rida), yaitu berdamai dengan luka masa lalu dan mulai mengontrol diri secara sadar.
Source:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5171207/
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25950633/
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19782634/
https://iou.edu.gm/wp-content/uploads/2021/04/IslamicPsychology_HumanBehaviour_ch1.pdf
https://www.researchgate.net/publication/376844511_Comparison_of_the_Concept_of_Rida_in_the_Qur’an_and_the_Concept_of_Psychological_Well_Being
https://yaqeeninstitute.org/read/paper/your-lord-has-not-forsaken-you-addressing-the-impact-of-trauma-on-faith
https://islamicpsychology.org/article/conceptual-model-of-post-traumatic-growth-with-emphasis-on-the-concept-of-psychological-trauma-based-on-the-holy-quran/