Menghadapi tantangan zaman
Di tengah krisis identitas dan konflik politik global Umat Islam tidak hanya menghadapi tantangan politik dan ekonomi, tapi juga krisis memandang diri dan peradaban secara islami ditengah bisingnya dunia. Saat ini identitas muslim menghadapi tantangan serius budaya barat. Tak bisa dipungkiri, ini terjadi karna lalainya petinggi agama dan negara dalam menggenggam erat budaya islam yang sesungguhnya. Agama hanya dijadikan alat politik dalam mendukung sistem pemerintahan salah satunya. tapi di sisi lain, petinggi agama juga banyak yang tidak sesuai perilaku dengan identitasnya. Maka lahirlah kondisi dimana umat tak lagi percaya dengan moralitas yang ada di agama sendiri.
Tepatnya Rabu, 6 Mei 2026 lalu, kami menghadiri sebuah forum diskusi online yang diadakan stai sadra. Forum menjawab keresahan tadi dengan menggali warisan pemikiran luar biasa Cak Nurkholis Madjid dan Sayed Ali Khamenei dalam menghadapi tantangan zaman.

Pendekatan Cak Nur menghadapi keresahan
Beragamnya pemikiran dan aliran agama yang terus berkembang modern ini seringkali membuat kesatuan umat terancam. Islam dikenal sebagai agama yang suka berseteru dan berpecah belah. Identitas dan simbol islam hanya dipakai saat politik tapi begitu terpilih, nilai nilai agama dilupakan. Cak nur menghadapi keresahan dengan mengembalikan moralitas humanisme islam yang sesungguhnya. bersandar QS Ali Imran: 64
“Janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.”
Bagi Cak nur, ayat ini menyampaikan kalau Tauhid bukan hanya percaya allah itu satu, tapi pembebasan manusia dari tuhan selain allah. Manusia tidak boleh dituhankan, kekuasaan tidak absolut, Ideologi dan aliran tidak boleh diberhalakan. Pembebasan manusia berarti kita harus mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah, dan pluralitas adalah kenyataan sosial. Beliau juga sering melandaskan sikapnya ini kepada QS Al-Hujurat: 13
“Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
Cak Nur menafsirkan ayat ini dalam tindakan sehari harinya sebagai sebuah landasan untuk ber toleransi dan lebih menerima perbedaan. Selama tuhan kita sama, maka kesatuan itu wajib hukumnya. Beliau juga memandang keberagaman agama di Indonesia sebagai sunnatullah sosial. Pluralitas agama bukanlah ancaman, tapi suatu kenyataan yang harus dihadapi dengan adab, keadilan, dan etika sosial. Bukan lagi fanatisme buta. Islam adalah rahmatan lil alamin. Jadi bagi Cak Nur, islam harus mendatangkan manfaat, kedamaian dan keadilan sosial. Islam tak boleh lagi hanya dijadikan sarana simbol identitas dan alat perebutan kekuasaan.

Bagi cak nur, substansi lebih penting dari sekadar simbol. Muncullah slogan Cak Nur yang khas:
“Islam yes, partai islam no!”
Slogan ini hadir bukan dengan tujuan mencari popularitas semata, tapi dari keresahan akan krisis identitas dan penyimpangan praktik simbol islam yang marak di negara tercinta. Islam bagi Cak Nur tak melarang praktik politik beragama, memakai simbol islam dan berteriak syari. Tapi, praktik dari substansi yang tak sesuai dengan nilai islam sejati lah yang dikritik olehnya. Merasa paling islam, tapi masih zalim dalam kebijakan, korupsi uang umat dan bangsa. Inilah yang menghilangkan ruh islam.
Kontemplasi Ruh Pemikiran Cak Nur
Melirik kembali sejarah, ternyata begitu juga yang nabi contohkan ketika menanda tangani piagam madinah yang merupakan konsitusi tertulis pertama di dunia yang menyatukan berbagai suku dan agama yang ada di yatsrib saat itu. Piagam madinah menekankan poin saling meghargai dan menghormati apapun pilihan agama setiap suku yang ada. Persis di negara kita yang beragam, niali moralitas islam inilah yang harus kita warisi, bukan saling menyalahkan, menghakimi dan memanfaatkan simbol semata.
Meski Cak Nur sering di kritik terkait pandangannya yang terbilang naif, lemah dan tak memiliki nilai kekuatan dalam politik. Tapi moralitas ini yang bisa kita ambil pelajaran demi kesatuan umat. Pembersihan jiwa.
Sayed Ali Khamenei menjawab tantangan zaman
Sayed Ali khamenei hidup di tengah westernisasi, degradasi budaya lokal dan pengkaburan identitas agama. Ketika iran berada dalam kekuasaan shah, tepatnya di era Reza Shah Pahlavi dan penerusnya, Iran aktif berbisnis dengan barat, sehingga turut kali budaya barat masuk ke jantung peradaban islam saat itu. Pemerintahan shah terkenal pro-barat, westernisasi ekstrem, sekularisasi paksa dan penekanan oposisi. Sehingga Ali khamenei muda yang mengikuti pengaruh Ruhollah khomeini memandang kalau barat bukan sekedar mitra ekonomi, tapi juga kekuatan yang mengendalikan politik dan identitas iran.

Menjadi murid ideologis Ruhollah Khomeini membuatnya terlibat aktif menentang rezim monarki shah saat itu. Imam Khomeini melihat kalau monarki shah saat itu gagal melawan kolonialisme, menjaga moral masyarakat dan menjaga kedaulatan umat. Demi semua itu, muncullah gerakan “Islam sebagai gerakan pembebasan.” Dari sini, Imam Ruhollah mengusung sistem wilayat al-faqih. Sistem ini membuat ulama yang berotoritas dalam pemerintahan demi menjaga islam dan masyarakat.
Setahun setelah monarki shah terguling, Iran yang berada dibawah kekuasaan wilayat al-faqh berperang dengan iraq. Bagian paling menariknya adalah, Iraq didukung Amerika Serikat, Negara teluk, Negara barat juga Uni Soviet. Iran yang terbiasa menghadapi semua ancaman global sendirian melahirkan mental self-reliance, resistensi dan jihad multi dimensi. Iran menjadi semakin mandiri, industri militer independen, sains, pendidikan dan teknologi semua mereka rancang sendirian ditengah embargo barat sampai hari ini.
Sejarah mengajarkan iran, setiap modernitas yang dibawa barat juga datang bersama dominasi ekonomi, intervensi politik, dan degradasi budaya. Khamenei menjawab krisis identitas islam ini dengan mendorong gerakan yang sekarang dikenal “Axis Of Ressistance.” Mereka membangun jaringan milisi regional yang menjadi benteng pertahanan berlapis guna melawan represi lawannya.
Kesimpulan Pandangan Khamenei
Pemikiran Sayed Ali Khamenei tidak lahir di ruang kosong, ia dibentuk oleh koloialisme, kudeta asing, revolusi, perang, dominasi barat dan segala tantangan global lainnya. Baginya, Islam harus kembali memiliki resistansi mandiri dan kebanggan identitasnya di tengah dominasi barat. Dalam garis besar, pemikiran Khamenei adalah perpaduan pengukuhan moralitas islam, kekuatan kolektif umat, dan survival peradaban. Kebijakan geopolitik Iran terkini bisa dibaca lebih lanjut di Artikel kami lainnya!!
Titik temu warisan kedua tokoh
Dewasa ini, tantangan kita bukanlah melawan zaman, tapi bagaimana mampu mempertahankan identitas islam dengan kembali menghadirkan nilai nilai qurani dalam kehidupan modern tanpa kehilangan moralitas maupun martabat peradaban.