JAKARTA– INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) mengadakan program rutin Saturday Forum.
INSIST mengadakan Saturday Forum sebagai tempat diskusi yang membahas isu Keislaman Kontemporer.
Pada Saturday Forum kali ini INSIST mengundang Ustadz Pizaro Ghozali Idrus sebagai Narasumber.
Dengan materi berjudul AS vs Iran,Dampak Global dan perubahan Politik Timur Tengah.

Pendahuluan
Untuk memahami konflik AS-Iran hari ini, kita perlu balik ke satu titik: 1979. Sebelumnya, hubungan AS dan Iran terbilang erat.Shah Mohammad Reza Pahlavi berkuasa dengan dukungan penuh Washington, setelah intelijen AS dan Inggris menjatuhkan Perdana Menteri Mosaddegh pada 1953 dan mengembalikan monarki yang pro-Barat.

Menurut Encyclopedia Britannica Tapi fondasi itu dibangun di atas ketidakpercayaan yang dalam. Bagi banyak warga Iran, AS bukan sekadar pendukung Shah — melainkan dalangnya. Segala represi yang mereka rasakan selama puluhan tahun dianggap bukan hanya kesalahan Shah, tapi kesalahan Washington. Council on Foreign Relations Revolusi Islam pecah.
Ketika Khomeini berkuasa, ia menjuluki AS sebagai “Setan Besar”.dan sejak saat itu, tidak ada lagi hubungan diplomatik normal antara kedua negara. Encyclopedia Britannica Konflik yang kita saksikan sekarang bukan dimulai kemarin. Ia adalah warisan dari luka yang sudah berusia lebih dari tujuh dekade.
Sejarah Singkat Konflik AS-Iran

Sejarah Singkat Konflik: Dari 1979 hingga 2026
Dalam paparannya, Ustadz Pizaro menyajikan timeline konflik AS-Iran secara kronologis:
1979 — Revolusi Iran menjadi titik balik. Hubungan AS-Iran yang sebelumnya erat berubah menjadi permusuhan ideologis. Krisis sandera 444 hari di kedutaan AS Tehran membentuk psikologi politik Amerika terhadap Iran hingga hari ini.
2000 — Isu nuklir Iran mulai mencuat ke permukaan dan menjadi salah satu titik sentral ketegangan bilateral.
2015 — Negosiasi nuklir menghasilkan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sebuah kesepakatan yang melibatkan AS, Iran, dan kekuatan-kekuatan besar dunia. Ketegangan sempat mereda.
2018 — Trump secara sepihak menarik AS keluar dari JCPOA. Ini menjadi salah satu keputusan yang paling membekas bagi Iran .
Dan menurut Ustadz Pizaro, menjadi salah satu sebab mengapa Iran kini sangat skeptis terhadap setiap tawaran negosiasi dari Washington.
2020 — Pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani oleh AS membawa hubungan kedua negara ke titik paling berbahaya sejak krisis sandera 1979.
2025 — Eskalasi serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
2026 — Serangan besar terhadap infrastruktur militer, minyak, dan nuklir Iran. Negosiasi berlangsung di tengah kepungan ketidakpercayaan dari kedua pihak.

Kerangka Analisis: Membaca Konflik Lewat Teori Hubungan Internasional
Ustadz Pizaro tidak hanya membaca konflik ini dari sudut pandang berita, tetapi meletakkannya dalam kerangka teori hubungan internasional yang lebih kokoh. Tiga kerangka yang digunakan:
Realisme mengacu pada Kenneth Waltz (1979), yang menyatakan bahwa negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional dalam sistem internasional yang bersifat anarki, tanpa otoritas tertinggi di atasnya.
Offensive Realism — mengacu pada John Mearsheimer (2001), yang berargumen bahwa negara secara alamiah berusaha mencapai dominasi regional bahkan global, dan kompetisi kekuasaan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan.
Security Dilemma (Dilema Keamanan) — ketika satu negara memperkuat kapasitasnya demi keamanan, negara lain merasa terancam dan merespons dengan cara yang sama, menghasilkan eskalasi senjata dan ketegangan yang terus berputar tanpa ujung.
Kerangka offensive realism dinilai Ustadz Pizaro paling relevan untuk membaca perilaku Iran saat ini, terutama setelah pengalaman pahit JCPOA.

Iran: Bukan Hanya Teokrasi, tapi Military State
Salah satu poin penting yang disampaikan Ustadz Pizaro adalah pergeseran karakter rezim Iran. Iran tidak lagi bisa dibaca semata-mata sebagai negara teokrasi — ia telah bertransformasi menjadi security state atau negara militer.
Beberapa indikatornya: konsolidasi kekuasaan yang semakin mengarah pada model keamanan, kebijakan luar negeri yang semakin konfrontatif terhadap Barat, dan struktur kekuasaan yang bergeser menjadi lebih desentralisasi.

Sudah tidak lagi bertumpu pada satu pemimpin tunggal. Pergeseran ini memiliki dampak geopolitik regional yang signifikan, karena Iran yang semakin militeristik akan semakin sulit dinegosiasi dengan pendekatan diplomatik konvensional.
Ustadz Pizaro juga menyebut bahwa Iran saat ini berada dalam posisi yang menurutnya relatif menguntungkan: penguasaan Selat Hormuz masih di tangannya, dan Iran masih memiliki mitra dagang dari kalangan kekuatan besar. Selama dua kondisi ini bertahan, Iran dinilai siap menjalani konflik jangka panjang.
Motif AS dan Israel Menyerang Iran
Ustadz Pizaro memaparkan lima motif utama di balik serangan AS-Israel terhadap Iran:

- Menghabisi kapasitas militer Iran
- Regime change — mengganti pemerintahan Iran dengan yang lebih akomodatif terhadap kepentingan Barat dan Israel
- Memutus mata rantai geoekonomi China di kawasan
- Memulihkan hegemoni AS di Timur Tengah yang semakin tergerus
- Membenturkan Iran dengan negara-negara Arab demi mencegah konsolidasi kekuatan Muslim di kawasan
Clean Break Doctrine: Ideologi di Balik Strategi Israel
Untuk memahami mengapa Israel tidak pernah benar-benar menginginkan perdamaian berbasis wilayah, Ustadz Pizaro memperkenalkan Clean Break Doctrine (1996)
Clean Break Doctrine adalah sebuah dokumen strategi kebijakan luar negeri yang disusun oleh Richard Perle, James Colbert, dan kolega, sebagai rekomendasi kepada pemerintahan Netanyahu.
Dokrin ini mendorong Israel untuk meninggalkan pendekatan land for peace dan menggantinya dengan strategi yang lebih keras.
Yaitu dengan pemutusan bersih dari kompromi lama, reshaping tatanan regional, aliansi dengan kekuatan besar, dan fokus pada deterrence through dominance. Regime change dipandang sebagai instrumen keamanan yang sah.

Implikasinya, Israel secara doktrin tidak memiliki insentif untuk menerima solusi dua negara, dan setiap eskalasi kawasan .
Hal ini dapat dilihat termasuk dalam konflik AS-Iran dapat dibaca dalam kerangka pelaksanaan doktrin ini.
Pergeseran Aliansi Negara-Negara Arab
Konflik AS-Iran memaksa negara-negara Arab untuk mengambil posisi. Ustadz Pizaro memetakan setidaknya empat opsi yang sedang dipertimbangkan:
- Memperkuat kapasitas militer mandiri
- Membangun aliansi geopolitik di luar AS, menjaga jarak dari Washington
- Mencari perlindungan dengan mempererat hubungan dengan AS
- Sebagian mencoba normalisasi dengan Iran demi stabilitas kawasan
Dinamika ini tidak monolitik. UAE dan Bahrain, misalnya, cenderung mendorong keterlibatan militer langsung. sementara Saudi, Jordan, dan Turki mengambil posisi lebih hati-hati. Ketidakseragaman ini mencerminkan kepentingan nasional masing-masing yang tidak selalu sejalan.
BRICS vs NATO: Pergeseran Poros Kekuatan Global
Ustadz Pizaro juga menyajikan gambaran makro tentang pergeseran keseimbangan kekuatan global melalui perbandingan BRICS dan NATO:
| Aspek | BRICS | NATO |
|---|---|---|
| Kontribusi ekonomi dunia (PPP) | ~40% | ~30% |
| Kontribusi ekonomi dunia (PDB Nominal) | ~26–30% | ~45–50% |
| Populasi gabungan | >3,5 miliar jiwa (±45% dunia) | ~950 juta jiwa (±12% dunia) |
| Pertumbuhan ekonomi (Tren 2024) | 4–6% | 1–2,5% |
Konflik AS-Iran berlangsung bukan di ruang hampa — ia terjadi di tengah pergeseran besar ini. Semakin banyak negara Timur Tengah yang mulai mempertimbangkan diversifikasi dari orbit ekonomi Barat ke arah China dan BRICS.
Masa Depan Negosiasi: Dua Tawaran yang Saling Bertolak Belakang
Salah satu bagian paling substantif dari paparan Ustadz Pizaro adalah perbandingan tawaran negosiasi dari kedua pihak — yang menurutnya mencerminkan betapa jauhnya jarak antara keduanya.

Tawaran AS (15 poin, belum dipublikasikan penuh):
- Tidak ada pengayaan uranium
- Pembatasan cadangan rudal Iran
- Penghentian dukungan terhadap kelompok-kelompok regional
- Navigasi bebas di Selat Hormuz
- AS akan mencabut sanksi sebagai imbal balik
Tawaran Iran (10 poin, menurut media negara Iran):
- Kompensasi bagi korban perang
- Pencabutan seluruh sanksi
- Protokol baru di Selat Hormuz
- Penghentian serangan terhadap kelompok-kelompok regional yang bersekutu dengan Iran
- Penutupan pangkalan militer AS di kawasan
- Hak pengayaan uranium
- Jaminan keamanan bahwa Iran tidak akan diserang lagi
Ustadz Pizaro menilai tawaran AS soal penutupan fasilitas militer Iran dan larangan pengayaan uranium sebagai tuntutan yang secara realistis tidak mungkin diterima Iran.
Sementara itu, tuntutan Iran soal penutupan pangkalan militer AS di kawasan juga mustahil dipenuhi Washington tanpa konsekuensi politik yang sangat besar.
Skenario AS Keluar dari NATO
Salah satu skenario paling mengejutkan yang dibahas adalah kemungkinan AS keluar dari NATO. Ustadz Pizaro mengutip analisis Joe Kent yang menyebut bahwa keluarnya AS dari NATO bukan untuk menghindari keterlibatan luar negeri.
Supaya AS bisa lebih bebas berpihak kepada Israel ketika konflik Turki-Israel di Suriah kelak terjadi.Ini menjadi penting.
karena selama ini salah satu rem terkuat yang mencegah AS menyerang Turki adalah keanggotaan keduanya dalam NATO. Jika AS keluar, hambatan itu hilang.

Prospek Konflik: Empat Skenario
Ustadz Pizaro menutup paparannya dengan memetakan empat prospek konflik ke depan:
Eskalasi — perang terbuka antara AS-Israel dan Iran, dengan dampak regional dan global yang masif termasuk krisis energi, perlombaan senjata nuklir, dan destabilisasi kawasan.
Status quo — konflik terbatas yang terus berlangsung tanpa resolusi, dengan ketegangan yang tetap tinggi namun terkontrol.
De-eskalasi — negosiasi berhasil, ketegangan mereda melalui jalur diplomasi.
Jalan tengah — solusi parsial berbasis kompromi terbatas, misalnya Iran mengurangi keterlibatan di kawasan dengan imbalan pelonggaran sanksi dan jaminan tidak diserang, sementara navigasi Selat Hormuz dinormalisasi.

Catatan Penutup
Konflik AS-Iran bukan sekadar perselisihan dua negara. Ia adalah cerminan dari pertarungan tatanan dunia yang lebih besar .
Antara hegemoni lama yang sedang dipertahankan dan kekuatan-kekuatan baru yang sedang bangkit. Bagi Indonesia, yang bergantung pada impor energi dan berada di tengah persimpangan kepentingan geopolitik global.
Memahami konflik ini bukan kemewahan intelektual melainkan kebutuhan strategis.Karena tanpa memahami konflik yang terjadi kita mudah terbawa oleh propaganda media.
Resume ini disusun berdasarkan paparan Ustadz Pizaro Ghozali Idrus dalam Saturday Forum INSIST, 11 April 2026,dilengkapi dengan sumber-sumber terpercaya: Encyclopaedia Britannica, Council on Foreign Relations (CFR), serta dokumen Clean Break: A New Strategy for Securing the Realm (Perle et al., 1996).dan Al Jazeera
Iran-Iraq War | Causes, Summary, Casualties, Chemical Weapons, Dates, & Facts | Britannica
https://www.aljazeera.com/news/2026/4/8/us-iran-ceasefire-deal-what-are-the-terms-and-whats-next
https://www.aljazeera.com/news/2026/4/15/us-iran-talks-whats-the-latest-on-mediation-efforts