Jakarta — Di tengah eskalasi konflik Asia Barat yang kian kompleks, Forum Dai dan Mubaligh Azhari Indonesia (Fordamai) menggelar halal bihalal yang berkembang menjadi ruang diskusi strategis. Forum ini menghadirkan pakar hubungan internasional dan pengamat geopolitik.
Dari pertemuan tersebut, peserta merumuskan peta jalan bagi para dai dalam menyikapi krisis global yang berdampak langsung ke Indonesia. Dengan demikian, kesimpulannya tegas: dakwah hari ini tidak bisa dipisahkan dari literasi geopolitik.

Selat Hormuz dan Ancaman Nyata bagi Indonesia
Sebagai awal pembahasan, diskusi menyoroti isu keamanan energi. Konflik Iran–Israel–Amerika Serikat tidak lagi sekadar perang wilayah, tetapi perebutan supremasi ekonomi global.
Dalam konteks ini, Iran berpotensi melakukan blokade de facto atas Selat Hormuz. Dampaknya dapat menjalar hingga Asia Tenggara. Bahkan, dalam kondisi kepanikan pasar global, harga minyak bisa melonjak hingga USD 150–200 per barel.
Akibatnya, kondisi ini langsung mendorong kenaikan harga energi dan pangan di Indonesia. Oleh karena itu, peserta menilai isu ini perlu mendapat perhatian serius.
Selanjutnya, diskusi juga menyoroti tren de-dollarisasi dan penguatan aliansi ekonomi baru seperti BRICS. Pergeseran ini mulai menantang hegemoni Barat di kawasan Teluk.
Dengan demikian, para dai perlu memahami dinamika ini agar tidak gagap membaca perubahan zaman.

Krisis Literasi: Tantangan Terbesar Akar Rumput
Beranjak dari isu global, pembahasan beralih ke kondisi masyarakat. Dr. Sofwan Albanna dan Bang Pizarro Artawijaya menyoroti fenomena yang mengkhawatirkan.
Masyarakat terpapar arus informasi yang masif, namun kemampuan memilah semakin melemah. Akibatnya, publik sulit membedakan dukungan murni terhadap Palestina dan infiltrasi ideologi asing.
Lebih jauh, konflik Iran–Israel kini telah berkembang menjadi konflik global. Dampaknya memengaruhi kebijakan serta kondisi sosial, ekonomi, dan politik di berbagai negara.
Dalam situasi ini, peran dai menjadi semakin penting. Oleh sebab itu, dai perlu hadir sebagai penyaring informasi yang kredibel di tengah kebisingan narasi global.
Tiga Rekomendasi Fordamai untuk Para Dai
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Umum Fordamai, Ustaz Fahmi Salim, menegaskan pentingnya “imun akidah” dan literasi data. Dari forum ini, lahir tiga rekomendasi utama.
1. Edukasi Berbasis Data
Pertama, dai perlu menyampaikan informasi dengan landasan geopolitik yang akurat. Tanpa itu, dai berisiko menjadi corong propaganda tanpa disadari.
2. Waspadai Infiltrasi Narasi
Selain itu, kepedulian terhadap Palestina adalah nilai Islam yang sah. Namun demikian, dai harus mampu membedakan ekspresi kemanusiaan dan agenda ideologis yang menumpang.
3. Jaga Persatuan Ukhuwah Dalam Negeri
Selanjutnya, kepemimpinan moral Indonesia perlu tercermin dalam dakwah. Dengan demikian, dai harus mendorong perdamaian, bukan memperkeruh perpecahan.
Akibatnya, energi umat tidak boleh habis dalam perang narasi yang tidak produktif.
Dai Berwawasan Global: Bukan Pilihan, Tapi Keharusan

Pada akhirnya, di tengah era multipolar, Indonesia memiliki peluang menjadi penengah dan penyeimbang. Namun, peluang ini hanya bisa dimanfaatkan jika pemuka agama menghadirkan narasi yang cerdas dan berbasis fakta.
Dengan demikian, dakwah tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga memperkuat kohesi sosial.
Dalam hal ini, Fordamai memosisikan diri sebagai jembatan antara keilmuan Islam dan kesadaran geopolitik. Sebab, dakwah yang efektif juga harus mampu menghindari pemanfaatan oleh kepentingan asing.
Rapat Pembentukan Pengurus FORDAMAI, Fahmi Salim Terpilih Jadi Ketua Umum
[ LIVE ] FORDAMAI HALAL BIHALAL